sb1m

My Forgetful Grandma Bagian 1 B


Aku sendiri sangat senang, karena ada teman untuk bermain. Meski kadang aku ga ngerti apa yang dibicarakanya, karena kadang-kadang pembicaraannya lompat-lompat dari satu hal ke hal lain, dan tidak nyambung. Tapi aku senang.
Usia emak sebetulnya belum tua-tua banget. Sekitar 70an tahun.  Namun uda sangat pelupa. Kadang yang baru diomongin beberapa menit lalu dia uda lupa lagi. Lalu nanya lagi. Setelah dijawab, beberapa menit lupa lagi. Lalu nanya lagi dan lagi.
Menurut papi, emak jadi pelupa seperti itu mungkin karena pengaruh obat yang sering dikonsumsinya ketika sakit. Maklum, sejak ditingalkan oleh almarhum kakek sekitar 20 tahun lalu, emak jadi sering sakit-sakitan. Tidak kurang dari sepuluh kali dia dirawat di rumah sakit. Untuk sakit yang sanget serius. Itu masih ditambah lagi dengan berobat-berobat kecil ke dokter langganannya.
Di satu pagi di hari minggu yang sangat tenang dan tentram, pokoknya nice week end banget deh, tiba-tiba terdengar teriakan heboh dari kakak sepupu ku yang kelas 2 SMP.
“Kebakaran! Kebakaran!” teriaknya.
“Rumah emak kebakaran!” teriaknya lagi, sambil berlari dan menunjuk-nunjuk ke arah asap yang mengepul keluar dari dapur emak.
Sontak sekitar enam orang keluarga yang saat itu kebetulan sedang di rumah masing-masing langsung keluar. Tak terkecuali aku, papi, dan mami. Kita langsung berlari menuju dapur rumah emak. Kebetulan dapurnya sendiri terletak di ruang paviliun, jadi ada satu pintu yang langsung mengarah ke luar.
Om Geri yang kebetulan sedang di rumah langung coba membuka pintu dapur yang ternyata tidak dikunci.
Sesaat setelah pintu dapur dibuka om Geri, langsung ketahuan apa penyebab asap tebal itu. Kompor yang menyala besar, yang di bagian tungkunya terdapat sebuah mangkuk berukuran besar dari bahan plastik. Atau, lebih tepatnya mungkin bukan mangkok tapi sejenis ompreng, atau entah lah, karena bentuknya sendiri sudah berubah, meleleh karena panas dari api kompor.
Sekesiap Om Geri langsung mematikan kompor gas, dan memeriksa apakah ada bagian dapur yang ikut terbakar.
“Kompor nyala,” teriaknya. Sementara kami hanya bisa mendongakkan kepala dari luar. Ikut menyelidiki.
“Dapurnya kebakar ga?” tanya uwak pertamaku.
“Nggak cuma kompor doang,” jawab Om Geri lagi.
“itu kenapa asapnya tebal banget,” buru sepupuku, dengan nada suara sedikit gemetar karena kaget.
“Ada omprengnya. Mungkin emak lagi mau goreng ayam. Tuh ada ayamnya di ompreng itu,” Jelas Om Geri sambil menunjukan sebuah benda yang disebutnya ompreng, dan meletakkannya di lantai di hadapan kami.  
Analisa sementara dan tercepatku mungkin emak bermaksud menggoreng ayam, namun salah. Dia mengira ompreng berbahan plastik itu wajan penggorengan. Pendapatku itu juga diamini oleh yang lain. Kami kini mulai bisa terkekeh-kekeh sambil masi menahan rasa kaget dan sedikit gemetar.
Belum hilang rasa kagetku, aku seperti kenal dengan ompreng berwarna pink itu. Aku mengambilnya dari lantai, coba menelisik.
“OMG…,” mulutku terbuka lebar.
Aku berbalik badan, lalu kuangkat tangan kananku yang memegang ompreng itu agak lebih atas, sambil menunjukkannya ke mami dan papiku.
“Mom…,” ujarku lemas.
Mami tidak kalah kagetnya. Mulutnya menganga lebih lebar dari mulutku. Diambilnya benda yang sedang kupegang itu.
“Papi, Taperwer mami,” ujarnya dengan suara lemas dan raut wajah merengut sedih.
Alih-alih ikut sedih, papi malah ketawa. Yang lain jadi penasaran menyelidiki, sebenarnya itu apa. Setelah dijelaskan oleh papi bahwa itu taperwer baru mami ku, semua jadi ikutan ketawa. Mami ikutan ketawa, meski roman sedih tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
“Eh emaknya mana?” tanya Om Geri.
Belum sempat semua bereaksi, tba-tiba emak muncul dari ruangan lain. Baju, rambut dan badannya agak basah.
“Ada apa ngumpul-ngumpul?” tanya emak. Tangan kanannya menggenggam handuk. Rupanya emak baru selesai mandi.
Kami ber 6 yang ada di situ hanya bisa menghela nafas dalam. Uwak pertamaku langsung memapah emak, sambil berbicara pelan-pelan dan mengingatkan emak untuk lebih berhati-hati. Sementara yang lain sibuk mengipas-ngipas, mengeluarkan asap yang masih ngumpul di dapur.
š›

            “Sabar. Gak usah marah. Nanti papi beliin yang sama persis,” ujar papi, menenangkan mami sambil merangkul bahunya, berjalan ke rumah kami.
            Hehehe…, emak… emak…, ada aja kejadian yang lucu, sekaligus menegangkan, dan kadang-kadang aneh yang dilakukannya.
                Bersambung…


Note: Cerita ini tidak dimaksudkan untuk membeberkan aib keluarga atau membicarakan kekurangan seorang ibu. Cerita ini dimaksudkan hanya ingin berbagi keseruan memiliki ibu yang sudah mulai pelupa. Dan lebih dari itu, cerita ini dimasudkan untuk berbagi dan kiat dan saling mengingatkan kepada orang-orang yang juga sudah memiliki orang tua yang sepuh dan pelupa. Mengingatkan bahwa mereka adalah orang tua kita yang harus kita jaga dan rawat dengan penuh kesabaran dan rasa ikhlas.


Kejadin di cerita ini sebagian besar real terjadi. Namun nama-nama dalam cerita bukan nama sebenarnya.

0 Response to "My Forgetful Grandma Bagian 1 B"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel