sb1m

Anak Jerapah Yang Ingin Terbang. Dongeng untuk Balita Tiga Tahun


Hallo para Bunda yang budiman, dongeng sangatlah penting bagi perkembangan otak dan karakter putra-putri kita. Yuk bekali putra-putri kita dengan dongeng-dongeng yang baik, yang mampu membangun karakter baik pada diri si kecil.
Berikut ini adalah dongeng tentang Anak Jerapah yang ingin terbang. Dongeng ini aga sedikit mengada-ngada sih. Hehehe... namanya juga dongeng. Tapi, Insha Allah bisa jadi salah satu alternatif dongeng yang bunda ceritaan kepada si kecil menjelang mereka tidur.
Selamat membaca. Jangan lupa untuk diceritakan kembali kepada putra-putri tersayang ya. 

Pada suatu hari, ada seekor anak jerapah yang lucu bernama Jeje. Di suatu malam sebelum ia tidur, ia berbisik kepada ibunya. "Bunda, tadi sore aku lihat seekor burung pipit terbang. Aku ingin bisa terbang seperti burung itu", ujarnya.
Mendengar itu, ibu jerapah tak kuasa menahan tawa. "Hahaha... Jeje, mana mungkin kamu bisa terbang. Kamu kan tidak punya sayap," ujar ibu jerapah.
Mendengar itu, Jeje sedikit kecewa. wajahnya langsung merengut murung.  
"Yaaa.... Bunda, tapi aku ingin terbang," rengek Jeje. Bundanya hanya membalas dengan senyuman.

Keeseokan harinya, Jeje terlihat tidak bersemangat untuk bermain di luar rumah bersama sahabat-sahabatnya. Dia terlihat hanya melamun, sambil menyenderkan kepala di jendela kamarnya.
"Hey kenapa kamu melamun saja dan terlihat murung Jeje?", tanya seekor burung merpati yang hinggap di jendela kamar Jeje.
"Aku lagi sedih," jawab Jeje.
"Kenapa kamu sedih?", tanya sang merpati lagi.
"Aku ingin terbang. Seperti para burung. Tapi kata bundaku, itu satu hal yang tidak mungkin," Jawab Jeje dengan raut wajah sedih.
"Owh begitu," ujar merpati.
"Ahhaaa... Aku punya ide," teriak sang merpati lagi bersemangat.
Tiba-tiba dia langsung terbang lagi, tanpa memperdulikan Jeje sang jerapah yang keheranan.

Beberapa saat kemudian, "Jeje, lihat sini!," teriak burung merpati yang tadi hinggap di jendela kamar Jeje. 
Betapa kagetnya Jeje, saat ia melihat merpati itu kembali lagi dengan puluhan, bahkan ratusan burung lain. Rupanya burung merpati tadi pergi untuk memanggil kawan-kawannya. Di halaman rumah Jeje berbagai jenis burung-burung. Mereka ada yang hinggap di tanah halaman rumah Jeje, ada yang hinggap dibatang-batang pohon, dan ada juga yang berterbangan beralu lalang.
"Jeje sini, keluar!" ajak sang merpati .

Tidak menunggu lama, Jeje pun langsung berlari keluar rumah. Ibu nya yang tengah memasak di dapur terlihat kaget ketika ia mendengar bunyi gedebak-gedebuk yang disebabkan suara angah Jeje yang bersemangat.
"Hey Merpati, apa yang kamu laakukan?" Tanya Jeje keheranan, sesampainya di halaman rumah.
"Aku mengajak teman-temanku para burung kemari, untuk mewujudkan keinginanmu untuk terbang," Jawab sang merpati.
"Apa?" Ucap Jeje , kaget.
"Iya. Kami akan mengangkat tubuhmu secara bersamaan hingga akhirnya kamu bisa merasakan melayang-layang di udara," timpal sang merpati, dengan penuh semangat.

Lalu tanpa ba bi bu lagi, merpati itu langsung memberi intruksi kepada para burung untuk berkumpul.
"Ayo teman-teman, silahan teman-teman semua memegang tiap baian tubuh Jeje, lalu kita angkat bersama-sama!" ujar merpati memberi instruksi.
Lalu burung-burung yang terdiri dari berbagai jenis burung itu melakukan apa yang diinstruksikan oleh Merpati. Mereka memegang setiap bagian tubuh Jeje. Mulai dari badan, leher, kepala, rambut, ekor, pooknya setip bagian tubuh Jeje.
"Kita angkat bersama-sama ya..." belum selesai merpati itu berbicara tiba-tiba...

"Eeeeee.......aduh...aduh....aduh...awwww!" terdengar teriakan Jeje.
Ternyata Jeje berteriak karena ia kesakitan. Ternyata seekor burung yang memegang telinga Jeje sudah hendak mencoba terbang, sebelum meerpati memberi intruksi.
"Hey pipit, turun dulu! kita terbang bersama-sama sesuai hitunganku," teriak merpati.
Mendengar itu pipit yang tadi mengangkat kuping Jeje langsung turung lagi.
Belum lagi merpati memberi aba-aba, tiba-tiba...
"Aduuuh...aduuuh... aw...aw...aw...!" Terdengar lagi jeritan Jeje.
Kali ini ia berteriak karena seekor burung yang memegang ekornya hendak terbang mendahului burung-burung lain.
"Hey Kaka Tua, turun! Sudah kuatakan kita bersama-sama!" ujar sang merpati.
Burung Kaka Tua yang memegang ekor Jeje, tadi hendak terbang langsung turun lagi.
"Oke sekarang ikuti aba-abaku. Satu, dua, tiga!" terak merpati memberikan aba-aba.

Lalu para burung itu pun terbang bersamaan dengan masing memegang bagian tubuh Jeje. Awalnya mereka terlihat kepayahan membawa tubuh Jeje yang berat itu untuk terbang. Namun setelah beberapa saat, ahirnya semua burung bisa menyesuaikan diri dan bisa terbang dengan baik.
Para burung itu pun bisa terbang dengan kompak, dan membawa Jeje terbang berputar-putar mengelilingi rumahnya, mengelilingi perkebunan dan lembah-lembah yang hijau.
Jeje sangat senang sekali, karena keinginannya untuk terbang akhirnya terwujud.

Setelah merasa puas, akhirnya para urung pun kembali mengantarkan Jeje ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Jeje langsung menceritakan pengalaman terbangnya itu kepada ibunya. Ibunya terlihat kaget, namun ia juga sangat senang, karena akhirnya Jeje tidak murung lagi.
Sebagai ucapan terimakasih, Ibu Jeje akhirnya membuatkan para burung yang kecapean itu syrup semangka yang segar.

Para burung pun senang, karena bisa meminum syrup semangka buatan ibu Jeje dengan sepuasnya. Selain rasanya yang segar, syrup itu juga bisa menghilangkan rasa haus dan cape setelah mereka terbang mambawa tubuh Jeje.
Akhirnya setelah merasa puas, para burung pun pamit untuk pulang. Tidak lupa Jeje mengucapkan terimakasih yang tulus kepada para burung itu.
"Dada pipit, dada kaka tua, dada merpati. Dada semuanya. Terimaksih ya!" Teriak Jeje dengan penuh kegirangan.

Sekian dongeng Anak Jerapah yang ingin terbang ini. Semoga bisa bermanfaat untuk bunda semua.
Pesan moral dari cerita ini adalah:
1. lakukan selalu kebaikan untuk sesama kita. 
2. Jika kita punya keinginan bersama, lakukan secara bersama-sama. Pasti Bisa.
3. Suatu hal yang berat dilakukan sendiri, akan ringan jika dilakukannya secara bersama-sama.
4. ...
5. ....
Bunda silahkan tambahkan pesan moral lainnya ya.... Hehehe... Selamat mendongeng 
  
Note: Ini cerita karangan sendiri, belum ada di buku dongeng mana pun. Dikarang dan didongengkan pertama kali pada suatu malam, kepada anak penulis. Dan kini jadi salah satu dongeng favorit anak penulis yang selalu diceritakan menjelang ia tidur. 

0 Response to "Anak Jerapah Yang Ingin Terbang. Dongeng untuk Balita Tiga Tahun "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel